Perlukah Peta Bencana? Jawabnya: Tidak Ada di RUU Bencana

Posted on January 24, 2007. Filed under: Diskusi |

Saya mengaku selama ini “ignorant” dan “sok pura-pura sibuk” sehingga tidak memperhatikan perkembangan pembahasan RUU Bencana. Sampai dengan munculnya banyak kritik dan keluhan tentang strategi dan penatakelolaan bencana dialamatkan kepada pemerintah, rasa keingintahuan saya terhadap RUU bencana “secara tak terduga” bangkit. Terlebih saat kata “peta” masuk menjadi judul berita sebuah beberapa suratkabar nasional sejak dua kejadian bencana yang lalu. Terdorong rasa ingin tahu wujud Rancangan UU tersebut, saya cari lewat mesin pencari dan menemukan RUU Bencana beserta RUU akademik (landasan akademik yang menunjang usulan RUU?) versi revisi 26-12-2005.

Iseng-iseng di dalam draft tersebut saya cari kata “peta”. “Thettt!”….maaf. Tidak ada. Kemudian saya lanjutkan pencarian dengan kata kunci “lokasi”….Lumayan, saya menemukan kata tersebut di pasal 28 – “e. penyiapan lokasi evakuasi” dan pasal 31 – tanggap darurat bencana: “pengkajian secara cepat terhadap lokasi, kerusakan, dan sumber daya”. Tidak terlalu jelek pikir saya. Namun tidak begitu istimewa dan sejujurnya saya berharap lebih dari rumusan RUU tersebut. Sebab, dari pendahuluan di pasal satu (Ketentuan Umum), sangat jelas paling tidak kegiatan-kegiatan yang disebut berikut perlu “sesuatu” yang mampu menunjukkan lokasi, distribusi , dan membantu menentukan orientasi arah:

6. Kegiatan penanggulangan bencana – praktek: perlu peta.

10. Mitigasi – praktek: membuat peta.

11. Tanggap darurat – praktek: perlu peta.

12. Rehabilitasi – praktek: perlu peta.

13. Rekonstruksi – praktek: perlu peta.

Sangat mungkin kata peta tidak perlu dituliskan secara eksplisit dalam penjabaran kegiatan-kegiatan tersebut di pasal-pasal berikutnya. Namun “sesuatu” yang menerangkan perlunya melakukan kegiatan penggunaan peta dengan bahasa seperti:”analisis kebumian” atau cukup “identifikasi lokasi /posisi” sepertinya dirasa perlu. Namun ini hanya “reasoning” dari seorang yang bukan pakar gempa. He…he… dan juga memangnya ada anggota dewan yang membaca blog ini?

Kemudian kembali ke masalah penggunanaan peta (yang sudah disinggung di kiriman sebelumnya: “Perlukah Peta Bencana? Jawabnya Tidak….”), fungsi peta sebagai media penyusun strategi tanggap bencana, pengendali koordinasi nampaknya jauh sekali dari perhatian. (Sudah dibahas di tulisan sebelumnya). Tidak harus peta tersebut disajikan dalam bentuk “web portal”, dalam wujud peta kertas pun, apabila didisain tepat sesuai penggunaan, bisa menjadi media pengendali koordinasi dan sinkronisasi. (Ket: Bahkan dari temuan beberapa penelitian peta kertas lebih dipilih -karena bisa dipegang-pegang?- daripada peta di layer komputer).

Terkait dengan koordinasi dan sinkronisasi, tentunya kita sering dengar cerita bantuan logistik numpuk di salah satu desa saja? Atau terjadinya tumpang tindih alokasi dokter pada saat penanggulangan bencana? Peta berpeluang memberi hasil yang lain (lebih baik), apabila peta bencana dan infrastruktur aksesnya dikelola dengan tepat. Di dalam RUU Bencana ini, banyak sekali kata koordinasi digunakan, antara lain: “mengkoordinasikan pelaksanaan…”, “…secara terencana, terpadu, terkoordinasi…”, “wajib berkoordinasi dengan pemerintah….”, “koordinasi lintas sektoral”, “pusat koordinasi peringatan dini”. Yang tentu saja adalah baik, menandakan kepekaan RUU Bencana terhadap pentingnya aksi (tidak hanya kata) “koordinasi” dalam tanggap darurat. Namun sayangnya konteks “koordinasi” di dalam pasal-pasal dalam RUU tersebut lebih banyak menitikberatkan aspek kelembagaan. Yang bukannya tidak boleh, namun ada baiknya aspek kelembagaan dalam konteks koordinasi tersebut digandeng-eratkan dengan metode dan teknik nyata “berkoordinasi”.

Lebih lanjut apabila saya menilik (secara singkat) RUU Akademik-nya, pembahasan mengenai “koordinasi” masih sebatas mensinyalir “koordinasi itu penting lho!” tanpa merinci metode dan teknik bagaimana koordinasi “seharusnya” dilakukan (kata “koordinasi” banyak ditemukan saat membahas perundangan dan kelembagaan). Lebih kongkritnya kata-kata seperti “mendorong koordinasi yang lebih jelas”, “kurangnya koordinasi” ditemukan berceceran di dalam draft RUU akademik, namun kata-kata seperti “dalam rangka meningkatkan koordinasi” atau “langkah-langkah strategis untuk menunjang terciptanya koordinasi” dalam membahas metode dan teknik penanggulangan bencana sayangnya tidak berhasil ditemukan.

Memang kata kunci koordinasi muncul di gambar 1 (halaman 29), namun sayangnya tanpa ada penjelasan selain:”Secara singkat siklus penanganan bencana dapat digambarkan sebagai berikut”. Dan hei, antara gambar 1 dengan teks sebelumnya kok sepertinya tidak selaras sama sekali ya – nggak nyambung gitu loh. Kemudian perkembangan metode kolaborasi dan koordinasi dengan bantuan teknologi sama sekali luput dari ulasan. Bahkan dalam sub judul “1.5. Teknologi (ketrampilan penerapan)” – halaman 30, nampaknya pustaka yang dipakai bisa digolongkan hampir semuanya “cukup tua”. Memang, bukan berarti pustaka tua tidak boleh dipakai (mis. ada juga artikel tahun 1945 miliknya Bush yang sampai hari ini mengundang pujian dan debat – “As we are thinking”), namun di sini kan pokok bahasannya adalah ketrampilan dan penerapan – teknologi! Kalau tidak salah di dekade ini banyak sekali bencana sebagai hasil olah manusia maupun alam di luar dan di dalam negeri – yang tentunya banyak menelurkan temuan dan rekomendasi yang memotivasi riset tentang kesiapan dan tanggap bencana? Bukahkah banyak jurnal rutin tentang bencana? misalnya saja Disasters, Forced Migration Review di antara deretan jurnal tentang bencana – yang sering juga menyediakan artikel-artikel mereka secara gratis.

Namun seperti kata tetangga: “memberi komentar jauh lebih mudah daripada membuat”….

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Perlukah Peta Bencana? Jawabnya: Tidak Ada di RUU Bencana”

RSS Feed for Laboratorium SIG UNIMA Comments RSS Feed

klo saya bukan ignorant tapi memang masih awam^^ anyway, boleh dishare link RUU-nya?


Where's The Comment Form?

  • January 2007
    M T W T F S S
        Feb »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Archives

  • GeoTweet

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • free counters
  • Categories

  • Top Rated

  • Protected by Copyscape Online Copyright Checker
  • AddThis!

    var addthis_config = {"data_track_clickback":true};
  • LINK

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: